Sabtu, 17 Mei 2025

Rumah Belulang (2025) – Teror Ritualisme dan Kepercayaan Gelap di Pedalaman Ulasan Review




Rumah Belulang (2025) – Teror Ritualisme dan Kepercayaan Gelap di Pedalaman Ulasan Review




Genre: Horor, Misteri, Thriller

Sutradara: Upi Avianto

Penulis: Jujur Prananto

Produser: Chand Parwez Servia

Tanggal Rilis: 28 Agustus 2025 (Indonesia)

Durasi: 1 jam 44 menit

Produksi: Starvision Plus, CJ Entertainment Indonesia


Sinopsis


Rumah Belulang mengikuti kisah Andien (Tika Bravani), seorang arkeolog muda yang mendapat tugas untuk meneliti reruntuhan rumah tua di daerah pedalaman Kalimantan Timur, yang disebut warga sebagai "Rumah Belulang" — tempat yang katanya tidak pernah bisa runtuh meski dilalap waktu.

Tapi apa yang awalnya murni misi ilmiah, segera berubah menjadi mimpi buruk penuh darah. Rumah tersebut ternyata menyimpan sejarah kelam sebagai tempat pemujaan roh leluhur dengan persembahan manusia dan belulang (tulang-belulang) dari korban.

Andien terjebak di tengah-tengah ritual berdarah yang berusaha dibangkitkan kembali oleh keturunan terakhir pemuja aliran hitam — dan ia mungkin adalah persembahan berikutnya.


Cerita dan Alur


Film dibuka dengan suasana dokumenter — Andien merekam penelitiannya, berbicara langsung ke kamera. Nuansa ilmiah dan rasional ditekankan di awal, membuat kontras besar ketika keanehan mulai terjadi.

Cerita berkembang dari rasa penasaran ilmiah menjadi ketakutan eksistensial. Narasi disusun dalam dua lapis:

Penyelidikan masa lalu rumah.

Peristiwa horor yang dialami langsung Andien.

Ritme film menanjak secara konsisten. Ketegangan dibangun tanpa tergesa-gesa, lalu meledak di babak akhir dalam ritual mengerikan yang digambarkan sangat intens dan disturbingly real.

Twist di akhir cukup mengejutkan — ternyata rumah itu hidup, dan hanya akan diam jika diberi “tulang segar” secara berkala.


Akting dan Karakter


Tika Bravani membawa kedalaman emosional kuat pada tokoh Andien — dari perempuan rasional hingga jadi korban psikologis. Transformasinya sangat meyakinkan.

Landung Simatupang sebagai dukun tua penjaga rumah tampil dengan karisma misterius dan aura mengancam. Ia tak banyak bicara, tapi tiap kemunculannya membuat bulu kuduk berdiri.

Karakter pendukung lain seperti warga desa yang tertutup, penjaga hutan, dan sesepuh adat, masing-masing diberi momen kuat untuk membangun suasana keterasingan dan kecurigaan.


Sinematografi dan Atmosfer


Salah satu kekuatan utama film ini ada di visual dan lokasi.

Rumah utama — dibangun dengan desain etnik khas Kalimantan namun penuh ornamen mengerikan seperti tengkorak dan simbol kuno — difilmkan dengan pencahayaan rendah dan atmosfer lembap yang membuat penonton nyaris bisa mencium bau tanah dan darah.

Beberapa shot menggunakan kamera statis yang membiarkan horor berkembang di latar belakang, membuat penonton tegang tanpa sadar. Penggunaan warna merah tanah dan hitam kayu tua mendominasi tone visual.

Kabut tipis di sekitar rumah serta suara hutan malam menambah rasa keterjebakan yang kuat.


Musik dan Suara


Aghi Narottama dan Bemby Gusti kembali menunjukkan kepiawaian mereka dengan scoring minimalis, banyak menggunakan alat musik etnik seperti saluang, kendang dayak, dan efek dengungan rendah.

Sound design memainkan peran besar — dari bunyi tulang berderak, desir angin melalui celah papan rumah, hingga suara langkah yang tidak pernah terlihat pemiliknya.

Ada satu adegan diam total (no sound) selama 40 detik sebelum suara jeritan meledak — berhasil menjadi salah satu momen paling menegangkan sepanjang film.

Kelebihan


Cerita original yang menggabungkan arkeologi, kearifan lokal, dan ritualisme horor.

Akting kelas atas dari Tika Bravani dan Landung Simatupang.

Atmosfer rumah tua yang benar-benar menyeramkan dan melekat di kepala.

Visual simbolik dan artistik tanpa kehilangan sisi horornya.

Kritik halus terhadap pengabaian sejarah dan tradisi.

Kekurangan

Beberapa penonton mungkin merasa alurnya terlalu lambat di pertengahan.

Dialog beberapa karakter desa terasa agak terlalu teatrikal.

Tidak semua misteri dijelaskan — terutama asal muasal "roh rumah".


Kesimpulan


Rumah Belulang adalah horor Indonesia yang menyajikan sesuatu yang segar dan berkelas. Ia tidak mengandalkan jump scare murahan, tapi membangun rasa takut perlahan dari akar budaya dan atmosfer psikologis yang kelam. Film ini cocok bagi penonton yang menyukai horor berbasis budaya lokal, mistisisme, dan psikologi. Ia bukan untuk semua orang — tapi bagi pecinta film horor atmosferik dan berlapis simbolisme, ini adalah salah satu karya horor terbaik Indonesia tahun 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar