Selasa, 20 Mei 2025

Menjerit dalam Kabut (2025) – Ketakutan yang Tak Bisa Dilihat, Hanya Dirasakan Ulasan FIlm




Genre: Horor, Thriller Psikologis

Sutradara: Randolph Zefanya

Penulis: Hestu Saputro, Tia Kurnia

Produser: Joko Anwar, Sheila Timothy

Tanggal Rilis: 26 September 2025 (Indonesia)

Durasi: 1 jam 51 menit

Produksi: Rapi Films, BASE Entertainment


Sinopsis


Menjerit dalam Kabut membawa kita ke sebuah desa pegunungan terpencil yang selama berbulan-bulan tertutup kabut tebal yang tidak pernah surut. Seorang guru muda bernama Arga (diperankan oleh Chicco Jerikho) ditugaskan mengajar di desa tersebut. Namun, sejak kedatangannya, ia mulai mendengar suara-suara jeritan yang menggema dari balik kabut setiap malam.

Tak ada warga yang berani bicara, seolah semua telah berdamai dengan suara misterius tersebut. Arga, yang didorong rasa ingin tahu dan insting pelindungnya terhadap murid-murid, memulai penyelidikan sendiri. Namun, yang ia temukan justru adalah rahasia kelam tentang asal-usul kabut dan perjanjian berdarah yang dilakukan oleh tetua desa di masa lalu.


Cerita dan Alur


Cerita disusun dengan gaya lambat namun menghantui. Alur mengalir dari ketegangan ringan menuju kepanikan psikologis, dengan transisi suasana yang sangat mulus dari damai ke mencekam.
Narasi terbangun dari potongan-potongan informasi yang Arga temukan: catatan tua, lukisan kabut, hingga kesaksian anak-anak yang berbicara dalam tidur. Ceritanya semakin kompleks saat Arga menyadari bahwa suara jeritan itu bukan berasal dari manusia, melainkan dari “sesuatu” yang lama terkubur dan ingin bebas.

Tema utamanya adalah rasa bersalah kolektif, penyangkalan sosial, dan ketakutan akan hal yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan — seperti kabut yang menyelimuti segalanya.


Akting dan Karakter


Chicco Jerikho menunjukkan kedalaman emosi sebagai Arga. Dari awal yang skeptis dan santai, hingga akhirnya berubah menjadi seseorang yang terguncang, ia tampil meyakinkan dan intens.

Christine Hakim berperan sebagai Bu Kepala Sekolah yang menyimpan banyak rahasia, dan penampilannya sukses menciptakan ketegangan hanya dengan tatapan matanya yang tajam.

Aktor anak-anak juga tampil luar biasa, terutama karakter Tari, murid kecil yang pertama kali mendengar "jeritan dalam kabut" — aktingnya polos namun menakutkan.


Sinematografi dan Atmosfer


Film ini menonjol secara visual. Kabut bukan sekadar efek, tapi karakter itu sendiri dalam cerita. Adegan-adegan di malam hari dengan latar kabut pekat menciptakan rasa sesak dan paranoia. Kamera sering digunakan dalam mode long take dan steady, mengikuti langkah Arga di tengah keheningan dan kesunyian desa.

Warna yang dominan adalah abu-abu, biru pucat, dan putih suram — memperkuat kesan dingin dan tanpa harapan. Tidak ada warna cerah sama sekali, mempertegas nuansa horor yang sunyi dan suram.


Musik dan Suara


Skoring film sangat minimalis, lebih banyak mengandalkan soundscape alami seperti desir kabut, suara ranting patah, dan jeritan samar dari kejauhan. Musik hanya muncul saat ketegangan memuncak, membuat setiap kemunculannya terasa penting dan menghantam psikologis penonton.

Efek suara seperti langkah kaki samar di balik kabut dan suara pintu kayu yang terbuka pelan membangun teror secara perlahan tapi pasti.

Kelebihan


Nuansa horor psikologis yang pekat dan elegan.

Visual kabut yang bukan hanya estetik tapi juga naratif.

Akting kuat, terutama dari Chicco Jerikho dan Christine Hakim.

Cerita dengan lapisan sosial dan mitologi lokal yang relevan.

Penggunaan suara yang sangat efektif menciptakan ketegangan.

Kekurangan


Bagi penonton yang terbiasa dengan horor cepat dan eksplisit, film ini bisa terasa lambat.

Beberapa adegan simbolik di akhir bisa membingungkan jika tidak diperhatikan seksama.

Tidak cocok untuk yang menyukai horor dengan banyak aksi fisik atau darah.


Kesimpulan


Menjerit dalam Kabut adalah contoh nyata bahwa ketakutan tidak selalu harus terlihat. Film ini membawa kita ke wilayah horor psikologis yang dalam, dengan suasana mencekam yang dibangun dari sunyi, simbolisme, dan rasa bersalah kolektif. Ini adalah film horor untuk kamu yang suka merenung setelah menonton, bukan sekadar berteriak saat menontonnya. Dengan kabut sebagai metafora rasa takut dan penyangkalan, film ini meninggalkan kesan yang mendalam. Setelah menonton, mungkin kamu akan memandang kabut dengan rasa curiga yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar