Senin, 19 Mei 2025

Janur Ireng (2025) – Ritual Maut dalam Balutan Tradisi Jawa Ulasan Film






Janur Ireng (2025) – Ritual Maut dalam Balutan Tradisi Jawa Ulasan Film


Genre: Horor, Misteri, Budaya

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis: Dimas Suryo, Ratih Wulandari

Produser: Chand Parwez Servia

Tanggal Rilis: 12 September 2025 (Indonesia)

Durasi: 1 jam 49 menit

Produksi: Starvision Plus, Legacy Pictures


Sinopsis


Janur Ireng adalah kisah horor budaya yang terinspirasi dari mitos kuno masyarakat Jawa tentang ritual janur hitam — sebuah bentuk pemurnian diri yang konon hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan, namun sering disalahgunakan untuk kekuatan gelap.

Cerita mengikuti Satria (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang peneliti budaya yang kembali ke desanya untuk mendokumentasikan tradisi yang hampir punah. Namun, ia justru terlibat dalam rangkaian kematian misterius yang selalu meninggalkan jejak: ikat janur berwarna hitam di tubuh korban.

Ketika Satria menyelidiki lebih dalam, ia menemukan bahwa desa itu menyimpan rahasia kuno: praktik okultisme yang menyaru sebagai ritual adat. Ia harus memutuskan — melawan atau menjadi bagian dari lingkaran tersebut.


Cerita dan Alur


Alur dibuka dengan narasi tenang ala dokumenter budaya, namun perlahan berubah menjadi thriller penuh ketegangan. Ceritanya menyajikan misteri yang makin dalam, dari kematian satu ke kematian lain — semua terjadi saat bulan mati dan dikaitkan dengan "tumbal ritual".

Narasi film dibingkai dengan perjalanan Satria yang bertransformasi dari skeptis jadi percaya. Struktur cerita rapi dan linear, tapi menyisipkan beberapa kilas balik masa lalu desa yang disampaikan lewat dongeng, wayang, dan mimpi.

Tema besar yang diangkat adalah konflik antara pelestarian budaya dan eksploitasi tradisi untuk kepentingan gelap.


Akting dan Karakter


Reza Rahadian tampil prima sebagai Satria, dengan perubahan karakter yang mulus — dari akademisi rasionalis ke sosok yang mulai terguncang mental dan spiritualnya.

Djenar Maesa Ayu mencuri perhatian sebagai Nyai Sambi — tokoh penjaga tradisi desa yang karismatik sekaligus menyeramkan. Penampilannya tenang, tapi selalu mengancam.

Pemeran pendukung seperti para tetua adat dan warga desa menambah kesan autentik. Dialog mereka banyak menggunakan bahasa Jawa alus, memperkuat nuansa lokal yang kental.


Sinematografi dan Atmosfer


Visual film ini sangat artistik. Penggunaan warna hitam, emas, dan merah darah mendominasi palet film, mencerminkan kombinasi antara adat dan horor.

Adegan ritual dilakukan dengan koreografi memukau, didukung properti adat seperti kemenyan, keris, dan tentu saja janur yang berubah warna.

Lokasi pengambilan gambar di lereng Gunung Lawu memperkuat atmosfer mistis. Pemandangan hutan, rumah joglo tua, dan pemakaman dengan batu nisan berlumut menjadikan latar horor alami yang otentik.


Musik dan Suara


Musik latar film digarap oleh Tya Subiakto dengan dominasi gamelan pelog dan bunyi-bunyian tradisional Jawa seperti angklung dan rebab. Musik digunakan untuk menciptakan suasana sakral, bukan semata menyeramkan.

Efek suara halus seperti bisikan dari wayang, desir angin, dan suara keris ditarik dari sarungnya menjadi penguat psikologis yang tajam. Tak ada jump scare klise — suara menjadi instrumen teror yang halus tapi dalam.

Kelebihan

Pendekatan budaya Jawa yang otentik dan sarat makna.

Akting kuat dari Reza dan Djenar Maesa Ayu.

Sinematografi dan setting yang memperkuat aura supranatural.

Musik tradisional yang menggetarkan secara spiritual.

Cerita yang menggabungkan horor dengan studi budaya dan kritik sosial.

Kekurangan


Beberapa penonton mungkin kesulitan memahami dialog berbahasa Jawa tanpa terjemahan penuh.

Alur lambat di awal bisa membuat sebagian penonton kehilangan fokus.

Ending yang simbolis mungkin tidak memuaskan bagi yang mengharapkan penjelasan gamblang.


Kesimpulan


Janur Ireng adalah film horor Indonesia yang menonjol bukan karena efek atau darah, melainkan karena kekuatan budaya dan spiritualitas lokal. Film ini menyajikan nuansa mistis yang otentik, bukan horor generik.

Jika kamu penikmat horor yang mengandung makna dalam dan estetika budaya, Janur Ireng adalah suguhan yang memuaskan. Tapi jika kamu cari horor ringan penuh kejutan cepat, film ini mungkin terasa terlalu berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar