Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis: Jujur Prananto, Dini Octavia
Produser: Rizal Mantovani, Anggy Umbara
Tanggal Rilis: 31 Oktober 2025 (Indonesia)
Durasi: 1 jam 57 menit
Produksi: MD Pictures, Legacy Pictures
Sinopsis
Di sebuah daerah pedalaman Kalimantan Tengah, sebuah kuburan masal ditemukan oleh tim pembangunan jalan tol. Kuburan tersebut tidak memiliki nisan, tidak terdata, dan tidak ada catatan resmi tentang siapa saja yang dikuburkan di sana. Warga lokal menyebutnya “Kubur Tanpa Nama” — tempat yang dikeramatkan dan pantang untuk disentuh.
Saskia (diperankan oleh Pevita Pearce), seorang arkeolog forensik, dikirim untuk menyelidiki asal-usul kuburan tersebut. Namun sejak ia dan timnya tiba, serangkaian kejadian aneh mulai terjadi: anggota tim menghilang satu per satu, suara-suara merintih terdengar dari tanah, dan mimpi-mimpi mengerikan mulai menghantui setiap malam.
Semakin dalam Saskia menggali, semakin ia terseret dalam sejarah kelam tentang genosida tersembunyi dan kutukan yang diwariskan secara turun-temurun.
Cerita dan Alur
Cerita dibuka dengan cepat: penemuan lokasi misterius di tengah proyek pembangunan, diikuti dengan dilema moral antara kemajuan dan penghormatan terhadap tradisi lokal. Alurnya berpindah antara masa kini dan kilas balik masa penjajahan Jepang yang menggambarkan tragedi berdarah yang memunculkan tempat itu.
Film ini menggunakan pendekatan investigatif dengan sentuhan horor, mirip The Ring atau The Medium, di mana setiap fakta yang terungkap justru membuka lebih banyak pertanyaan.
Ketegangan dibangun secara perlahan dan sangat atmosferik, sementara misteri utama terus berkembang hingga klimaks yang mengungkap pengkhianatan keluarga, upacara pemanggilan roh, dan fakta mengejutkan tentang asal-usul kuburan tersebut.
Akting dan Karakter
Pevita Pearce menampilkan performa terbaiknya sejauh ini — sebagai Saskia, ia tampil tangguh namun rapuh, menghadapi tekanan batin sekaligus teror fisik dari dunia gaib.
Reza Rahadian muncul sebagai Dimas, insinyur proyek yang awalnya skeptis namun perlahan berubah menjadi percaya saat tragedi menimpa rekan-rekannya. Chemistry mereka menambah lapisan emosional yang kuat di tengah kengerian.
Pemeran pendukung seperti Christine Hakim sebagai dukun lokal juga mencuri perhatian, dengan penampilan yang membekas dan penuh aura mistis.
Sinematografi dan Atmosfer
Pengambilan gambar memanfaatkan lanskap hutan Kalimantan yang lebat dan liar, menciptakan atmosfer penuh isolasi dan ancaman tersembunyi. Kamera sering berada di posisi rendah atau menyudut, memberikan kesan “diawasi” dari dalam tanah.
Pemakaian warna tanah, coklat tua, hijau gelap, dan kabut alami memperkuat kesan dunia antara kehidupan dan kematian. Adegan malam sangat pekat dan hanya diterangi cahaya obor, menciptakan ketegangan maksimal.
Musik dan Suara
Skoring musik garapan Andi Rianto sangat mendalam, dengan elemen suara khas Kalimantan seperti seruling Dayak dan gamelan berat yang dipadukan dengan suara desahan dan bisikan halus.
Efek suara juga jadi senjata utama film ini: suara tanah bergeser, jeritan dari bawah bumi, dan gumaman roh terdengar halus tapi menusuk — seperti berasal dari dalam kepala penonton sendiri.
Kelebihan
Cerita orisinal dengan latar lokal dan sejarah yang relevan.
Atmosfer mistis sangat kental, didukung visual dan suara mencekam.
Penampilan akting memukau, terutama dari Pevita dan Christine Hakim.
Perpaduan genre misteri-horor yang berhasil.
Kekurangan
Temponya agak lambat di pertengahan, terutama saat kilas balik sejarah.
Beberapa subplot seperti latar belakang tim arkeologi kurang digali dalam.
Ending semi-terbuka mungkin mengecewakan penonton yang suka penutup eksplisit.
Kesimpulan
Kubur Tanpa Nama bukan sekadar film horor, tetapi juga kisah tentang bagaimana sejarah kelam bisa tertanam dalam tanah dan kembali menuntut pengakuan. Film ini menggugah kesadaran akan pentingnya menghormati masa lalu, terutama saat trauma kolektif disembunyikan demi kepentingan modernisasi. Dengan sinematografi yang indah, akting kuat, dan cerita bernuansa politik-sosial yang dibalut supranatural, film ini patut jadi salah satu karya horor Indonesia paling serius dan menyeramkan di tahun 2025.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar