Jumat, 16 Mei 2025

Purnama di Balik Kabut (2025) – Horor Mistis di Balik Keindahan Alam Ulasan FIlm



Purnama di Balik Kabut (2025) – Horor Mistis di Balik Keindahan Alam Ulasan FIlm



Genre: Horor, Thriller, Misteri

Sutradara: Kimo Stamboel

Penulis: Kimo Stamboel, Lele Laila

Produser: Sunil Soraya

Tanggal Rilis: 10 Agustus 2025 (Indonesia)

Durasi: 1 jam 48 menit

Produksi: Rapi Films, Soraya Intercine Films


Sinopsis


Dalam film Purnama di Balik Kabut, kita diajak ke sebuah desa pegunungan terpencil bernama Desa Tapak Rimba, yang hanya bisa diakses saat bulan purnama. Seorang fotografer alam, Arman (diperankan oleh Reza Rahadian), bersama asistennya Dina (Adhisty Zara), berpetualang ke desa tersebut untuk mendokumentasikan flora dan fauna langka. Namun, mereka segera menyadari bahwa desa tersebut menyimpan kutukan tua. Setiap malam purnama, kabut pekat menyelimuti desa dan menghadirkan sosok-sosok tak berwajah yang memburu jiwa-jiwa baru untuk "menjadi bagian dari kabut".

Dalam upaya melarikan diri, Arman dan Dina harus mengungkap rahasia kuno yang tersembunyi di dalam mitos desa — tentang perjanjian antara leluhur desa dengan entitas kabut.


Cerita dan Alur


Cerita dimulai dengan suasana petualangan, indah dan mengundang rasa ingin tahu. Namun saat malam pertama purnama tiba, nada film bergeser drastis menjadi mencekam dan claustrophobic.

Narasi dibangun bertahap dengan pengungkapan kecil-kecilan tentang kutukan kabut. Tidak hanya menampilkan horor supernatural, tapi juga mengkritik ketamakan manusia yang merusak alam dan mengkhianati janji leluhur.

Alur dipecah menjadi tiga babak jelas:

Eksplorasi dan kagum terhadap keindahan desa.

Teror kabut dan upaya bertahan hidup.

Penemuan rahasia dan pengorbanan akhir.

Twist utama di babak ketiga cukup mengejutkan: ternyata salah satu penduduk desa adalah pengkhianat yang mempercepat kutukan demi keabadian dirinya sendiri.


Akting dan Karakter


Reza Rahadian tampil prima sebagai Arman — skeptis, rasional, namun perlahan runtuh mentalnya seiring horor yang ia hadapi.

Adhisty Zara berhasil menyeimbangkan ketegasan dan ketakutan dalam karakternya, memberi kedalaman emosional yang kuat.

Pemeran pendukung seperti Christine Hakim sebagai tetua desa menghadirkan performa karismatik, dengan suara bergetar penuh beban masa lalu.

Chemistry antara Arman dan Dina terasa alami, memperkuat beban emosional saat tragedi mulai terjadi.


Sinematografi dan Atmosfer


Film ini benar-benar menonjol lewat visualnya.

Lokasi syuting di pegunungan asli membuat semua gambar tampak autentik, dengan lanskap alam yang memesona sebelum berubah menjadi menyeramkan di malam hari.

Penggunaan kabut sebagai "karakter" adalah kekuatan film ini. Efek practical fog dikombinasikan dengan CGI halus menciptakan suasana horor alami, tanpa harus berlebihan.

Adegan malam hari ditampilkan dengan pencahayaan minimalis, hanya lilin, api unggun, dan cahaya bulan — meningkatkan rasa terjebak dan putus asa.


Musik dan Suara


Skor musik garapan Fajar Yuskemal minimalis namun efektif, banyak mengandalkan suara alam — desir angin, gesekan pohon, dan dengungan aneh dari balik kabut.

Tema musik kabut: dentingan lonceng samar bercampur bunyi gamelan yang diperlambat, memberikan efek suara yang hipnotis sekaligus mengganggu.

Beberapa jump scare menggunakan permainan suara hening total diikuti ledakan suara alami, membuat penonton benar-benar terkejut.

Kelebihan

Visual luar biasa dengan penggunaan kabut sebagai elemen horor utama.

Akting kuat dari semua pemain, khususnya Reza Rahadian dan Christine Hakim.

Cerita berbobot, menggabungkan horor supernatural dengan kritik sosial soal kerusakan alam.

Atmosfer mencekam alami, bukan horor dibuat-buat.

Ending emosional dan bermakna.

Kekurangan

Awal film terasa agak lambat bagi penonton yang mengharapkan aksi langsung.

Beberapa subplot tentang penduduk desa kurang dikembangkan sempurna.

Beberapa efek kabut CGI di adegan tertentu terlihat kurang natural bila dibanding practical effect.


Kesimpulan


Purnama di Balik Kabut adalah film horor Indonesia yang menggabungkan keindahan visual dan teror psikologis secara efektif. Ini bukan sekadar film seram biasa — melainkan pengalaman sinematik yang menghantui sekaligus indah. Jika kamu suka film horor bertema alam mistis seperti The Witch atau The Ritual, film ini wajib masuk daftar tonton kamu. Film ini membuktikan bahwa Indonesia bisa menghasilkan horor kelas dunia dengan cerita dalam, visual kuat, dan pesan moral tajam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar