Sutradara: Timo Tjahjanto
Produser: James Wan
Studio: New Line Cinema, Atomic Monster
Genre: Horor, Thriller, Aksi
Durasi: 116 menit
Bahasa: Inggris
Sinopsis:
Dalam versi remake ini yang diberi judul Last Train to New York, cerita difokuskan pada seorang ayah karier dingin bernama Eric Caldwell (diperankan oleh Jeremy Allen White), yang mencoba memperbaiki hubungannya dengan putrinya, Maya (Madison Hu), dengan menemaninya naik kereta terakhir dari New York menuju Chicago.
Namun di tengah perjalanan malam yang tampak biasa itu, sebuah wabah mematikan merebak dengan cepat dari gerbong ke gerbong. Para penumpang berubah menjadi makhluk haus darah dengan kecepatan dan keganasan luar biasa. Eric harus memutuskan antara bertahan hidup atau mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Maya dan penumpang lain. Di dunia yang runtuh dalam hitungan jam, moral dan kemanusiaan diuji keras.
Review:
Mengadaptasi film horor modern Korea yang sangat dicintai seperti Train to Busan bukan tugas mudah. Tapi di tangan Timo Tjahjanto, sineas Indonesia yang dikenal dengan film aksi brutal seperti The Night Comes for Us, remake ini menawarkan intensitas yang sama ganasnya namun dengan pendekatan budaya dan setting Amerika yang khas.
Dari sisi visual dan aksi, Last Train to New York tampil agresif, penuh darah, dan nyaris tanpa jeda. Tjahjanto memaksimalkan ruang sempit kereta sebagai arena klaustrofobik untuk horor yang tak berhenti. Namun sayangnya, sisi emosional dan kehangatan hubungan ayah-anak yang menjadi nyawa versi asli terkadang terasa kurang dalam atau bahkan tergerus oleh intensitas aksi.
Beberapa momen memang terasa lebih “Hollywood” — lebih cepat, lebih keras, lebih spektakuler — tapi juga kurang subtil dan kontemplatif dibanding versi Korea.
Kelebihan:
Aksi dan Gore yang Intens: Film ini menyajikan ketegangan tinggi tanpa banyak kompromi.
Penyutradaraan Berani: Tjahjanto berhasil menerjemahkan ketakutan dan kekacauan dalam ruang sempit jadi tontonan yang mencekam.
Pacing Cepat: Tidak banyak waktu dihabiskan untuk membangun situasi; penonton langsung dilempar ke dalam kekacauan.
Kekurangan:
Emosi Kurang Menggigit: Hubungan ayah-anak tidak sekuat versi Korea, membuat klimaks terasa kurang menggugah.
Kesan "Remake Hollywood": Beberapa keputusan kreatif terasa terlalu generik, dan kehilangan nuansa orisinalitas.
Penggemar Asli Mungkin Tidak Puas: Jika kamu penggemar versi Yeon Sang-ho, remake ini bisa terasa terlalu bombastis dan minim jiwa.
Kesimpulan:
Train to Busan: U.S. Remake alias Last Train to New York adalah adaptasi yang brutal dan menegangkan, dengan kekuatan visual dan aksi yang tidak bisa diremehkan. Tapi meski menawarkan adrenaline tinggi, film ini tetap kehilangan sebagian “jiwa” dari kisah aslinya—yakni kedalaman emosi dan kepedihan kemanusiaan di tengah kiamat. Untuk penonton yang belum menonton versi Korea, film ini bisa jadi thrill ride yang mendebarkan. Tapi bagi penggemar lama, mungkin lebih terasa seperti kereta cepat yang kehilangan arah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar